UIKISTORIES

GIRL UP UI:

SISTER(BROTHER)HOOD

FOR CHANGE

 

#1 I’m not alone in this

Kekerasan seksual hingga saat ini masih merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan. Stigma masyarakat yang muncul ketika mendengar kata seksual menyebabkan kata kekerasan seringkali terabaikan ketika membahas mengenai kekerasan seksual. Hal tersebut mungkin merupakan sebab banyak perempuan yang mengalami kekerasan seksual takut untuk menyuarakan apa yang dialaminya. Diam adalah opsi terakhir yang dapat mereka pilih, membiarkan kejadian yang telah menimpa mereka membekas menjadi luka batin, menjadi trauma, karena cibiran masyarakat terasa lebih menyakitkan untuk diterima.

Namun, diam bukanlah solusi, dan berbicara adalah hak asasi. 

Menanggapi kasus ini, United Nations Foundation berinisiasi untuk mendirikan Girl Up, sebuah program yang menjadi wadah bagi komunitas di seluruh dunia untuk dapat mendukung satu sama lain terkait isu-isu perempuan. 

Maraknya kasus kekerasan seksual terhadap mahasiswi tanpa adanya ruang untuk menyuarakan apa yang telah dialaminya menjadi alasan bagi Rayfienta Gumay dan Aina Athira (Psikologi UI 2018) untuk berasosiasi dengan Girl Up Indonesia dan mendirikan Girl Up UI pada Juli 2019 lalu. 

“Saat masih menjadi mahasiswa baru, gue pernah mengalami kekerasan seksual. Dan mengumpulkan keberanian untuk menerima dan membicarakan bahwa hal tersebut pernah terjadi itu gak mudah dan membutuhkan waktu yang lama, beberapa bulan bahkan tahun untuk bisa berani bersuara,” sebut Gumay.

“Tapi ternyata, gue gak sendirian dalam hal ini. Akhirnya, bareng temen-temen gue, kita mendirikan Girl Up UI dengan tujuan supaya orang-orang, terutama di UI, mulai aware dengan kasus kekerasan seksual dan kita mau mastiin bahwa mereka gak sendirian, mereka berhak untuk bicara, mereka harus pulih.”

 

#2 Women, Culture, and the Rights 

 Menjadi perempuan di Indonesia bukanlah perkara yang mudah.  Memang, sudah menjadi kultur yang sudah diturunkan sejak nenek moyang kita bahwa banyak sekali tuntutan yang harus perempuan penuhi. Jadi saja ibu rumah tangga yang baik, belajar masak, sekolah gak usah tinggi-tinggi, biar suami kamu saja yang kerja, kamu diam saja di rumah‘. Konsepsi sosial yang patriarkis seperti itu membatasi ruang gerak perempuan untuk bertindak, termasuk ruang untuk speak up, dan ruang untuk bermimpi. 

Girl Up UI memulai langkah untuk memutus rantai patriarki ini dengan memberdayakan perempuan terutama mahasiswi UI dan memperjuangkan hak-haknya. Ruang lingkupnya mencakup 5 pilar yaitu, education, health, safety, leadership, and being counted. 

“Saat ini, empowerment yang kita lakuin dimulai dengan memberikan edukasi ke masyarakat tentang isu-isu yang lagi terjadi saat ini, seperti kekerasan seksual, marital rape, child marriage dan lain-lain lewat campaign di media sosial, maupun seminar dan diskusi. Dimulai dari hal-hal kecil dulu kaya gitu sih, kita berharap orang-orang aware kalau kekerasan terhadap perempuan itu ada, nyata, dan terjadi di lingkungan sekitar kita.” 

“Hak perempuan untuk mendapatkan akses pun masih terbatas, terutama di desa-desa. Akses untuk hal-hal basic seperti mendapatkan pendidikan, dokumen kewarganegaraan, bahkan pembalut di beberapa tempat masih sulit. Anak-anak perempuannya banyak yang gak sekolah. Kita ingin mengajak perempuan untuk berani bermimpi, dan memperjuangkan rights for equal access,” tambah Anya dan Gumay.

#3 Boys aren’t enemies

Memperjuangkan hak-hak perempuan tidak menjadikan Girl Up UI eksklusif untuk perempuan saja. Girl Up UI sangat terbuka terhadap mahasiswa UI yang ingin bergabung, baik perempuan maupun laki-laki diperbolehkan. 

Dalam rangka memperingati 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan (16 HAK TP), Girl Up UI membuat kampanye dengan tagar #sisterhoodagainstviolence dan #brotherhoodagainstviolence yang bertujuan untuk memberikan wadah agar para korban kekerasan tidak merasa sendirian.

Laki-laki bukan musuh kita.

Kita juga membutuhkan laki-laki untuk bisa bersama-sama mencapai misi kita, yang salah satunya adalah untuk menghentikan gender-based violence. Gabisa cuma speak up dari satu sudut pandang perempuan aja, tapi kita butuh kerjasama laki-laki untuk sama-sama speak up sehingga pesan terkait kasus ini bisa diterima semua orang.”

 

#4 Overcoming the Hurdles

Walaupun Girl Up UI belum lama berdiri, berbagai tantangan dan tentangan telah mereka hadapi sebagai komunitas. Penentangan yang dialami biasanya berasal dari media sosial. 

“Penentangan pasti ada. Saat kami memberikan edukasi tentang marital rape di Instagram kami misalnya, ada beberapa DM yang masuk dan menentang kami dengan dalil-dalil agama. Padahal, kami yakin semua agama mengajarkan kebaikan.” 


“Menanggapi hal seperti itu, kita berusaha untuk membalasnya sebijak mungkin. Kita cukup membalas dengan senyuman dan terima kasih. Karena kami yakin setiap orang kan pasti punya sudut pandang yang berbeda-beda, kita harus tetap hargai saja.”

Selain tantangan dari media sosial, Gumay dan Anya selaku President dan Vice President Girl Up UI pun sempat mendapat tantangan lain yang harus dihadapi, yaitu tanggapan dari keluarga. 

“Awalnya, gue sempat mendapat tanggapan yang kurang baik dari keluarga. Waktu itu lagi membawa isu mengenai RUU-PKS misalnya dan sempat terjadi beberapa kali adu argumen karena perbedaan pandangan. Tapi, sekarang udah didukung buat menjalankan Girl Up UI ini,” jelas Anya.

 

#5 Be Part of the Change

Saat ini, Girl Up UI dikelola oleh pengurus inti yang terdiri dari 11 orang dengan anggota yang eksklusif untuk mahasiswa UI dan berjumlah kurang lebih 100 orang dari total pendaftar sebanyak 191 orang per November 2019.

Untuk menjadi anggota, siapapun, baik laki-laki dan perempuan dapat bergabung dengan cara mengisi form yang akan disediakan di akun resmi Girl Up UI. 

 

Harapan kami, tentunya lewat Girl Up UI ini kita bisa terus menjaga satu sama lain. Baik laki-laki atau perempuan, kita sama-sama melindungi.

Dengan adanya Girl Up UI ini, diharapkan semakin banyak perempuan berani untuk speak up dan bercerita atas kekerasan yang menimpa mereka. Girl Up UI ingin memastikan mereka tidak sendirian. Selain itu, diharapkan masyarakat sekitar, terutama di UI, dapat lebih aware dengan kasus-kasus yang menimpa perempuan dan hak-hak mendasar yang tidak didapatkan perempuan di sekitar lingkungan mereka.

 

 

 

Content Writer : Vania Sandra & Robby Abdillah

Editor : Rafaella Shiene 

 

Related Articles

Related

Manusiaui

Manusiaui

uIkistories  MANUSIAUI :     CONNECTING THE HUMAN DOTS      #1 PERSPEKTIF BARU Mendengar nama besar Universitas Indonesia, seringkali banyak persepsi yang muncul di benak masyarakat. Di antaranya ialah persepsi terhadap mahasiswanya seperti, “Wah anak UI, pasti orang...

read more
Mindsters! Psiko UI

Mindsters! Psiko UI

UIKIPEDIA STORIES MINDSTERS! : PEMBANGKIT MATI SURI MINAT RISET MAHASISWA #1 Mindsters!’ Take on Research Mindsters! adalah sebuah kelompok peminatan mahasiswa penggiat riset yang berfokus pada pengembangan dan penelitian ilmu psikologi. Pada mulanya, Mindsters!...

read more
UI Toastmasters Club

UI Toastmasters Club

 UIKIPEDIA STORIES PUBLIC SPEAKING : SENI DAN PENERIMAAN  #1 The Backstory “Jadi, Toastmasters sendiri itu organisasi internasional yang berfokus pada pengembangan public speaking. Awal kehadirannya di UI sebenernya untuk staff UI dan dibiayai oleh pihak kampus....

read more
CHECK US OUT

Join

Girl Up UI

Girl Up adalah bagian inisiatif dari United Nations Foundations yang bertujuan untuk meningkatkan awareness dan mendukung remaja perempuan dalam bidang kesehatan, keselamatan, pendidikan, dan kepemimpinan.

Untuk memperluas jangkauan Girl Up campaign dan memenuhi kebutuhan adanya platform pemberdayaan perempuan di Universitas Indonesia, dibentuklah klub Girl Up oleh mahasiswa dengan nama Girl Up UI. Girl Up UI terbuka bagi semua mahasiswa dan mahasiswi UI yang peduli terhadap isu perempuan dan gender, serta berkomitmen untuk saling mendukung satu sama lain.

Follow Us