uIkistories 

MANUSIAUI :    

CONNECTING THE HUMAN DOTS 

 

 

#1 PERSPEKTIF BARU

Mendengar nama besar Universitas Indonesia, seringkali banyak persepsi yang muncul di benak masyarakat. Di antaranya ialah persepsi terhadap mahasiswanya seperti, “Wah anak UI, pasti orang kaya, pinter, dan hedon-hedon deh”. Lalu, siapa yang tidak asing dengan akun-akun Instagram semacam uicantik dan uiganteng ? Kemunculan akun-akun tersebut telah menjadi sorotan masyarakat luas ketika mendengar nama UI, seolah-olah menganggap bahwa kampus tua ini hanya melahirkan tak lebih dari putra-putri rupawan bangsa tanpa menilik lebih lanjut cerita kehidupan mereka yang ada di dalamnya.

Pandangan terhadap mahasiswa UI seperti itu lahir dari persepsi masyarakat. Munculnya persepsi ini diawali oleh interpretasi mereka terhadap apa yang biasa menjadi sorotan untuk dilihat. Persepsi tersebutlah yang akan melahirkan stereotip yang salah terhadap mahasiswa UI. 

Bagi Ricky Subagja (alumni FISIP UI 2015), UI lebih dari sekadar stereotip. Ada banyak hal yang belum masyarakat lihat dari ‘rimba’ keberagaman hidup warganya yang tidak terbatas pada mahasiswa saja. Dan sudah seharusnya orang-orang melihat kembali manusia di kampus ini dengan perspektif baru

Berawal dari tugas akhir (UAS) Ricky di mata kuliah Media dan Komunikasi Antar Budaya saat dirinya berada di semester 5 yang mengharuskannya untuk membuat suatu project kebudayaan, ia mendapat andil ide lewat perbincangan dengan seorang temannya, Ares (Risky Altaresh, FMIPA 2016). Ares yang terinspirasi dari akun Instagram Humans of New Yorkdimana seorang fotografer berkeliling New York dan membagikan kisah orang-orang di kota tersebut–ingin membuat hal yang serupa di UI. “Rik, kayaknya keren deh kalau misalnya ada semacam Humans of New York di UI,” kata Ares. 

Dari percakapan itu, disertai keinginan Ricky untuk memperlihatkan keberagaman manusia di UI, lahirlah akun Instagram @HumansofUI pada akhir tahun 2017. “Dengan modal dan kemampuan seadanya,” jelasnya, “gue langsung mengeksekusi ide ini, karena untuk memenuhi tugas UAS gue juga. Dan ya, jadilah Humans of UI, dimana cerita-cerita mahasiswa UI diunggah.” 

 

Sempat ada kekhawatiran yang muncul ketika Ricky mengeksekusi Humans of UI. “Gue khawatir gue ngambil idenya Ares,” aku Ricky. Namun, seiring berjalannya Humans of UI, ia menemukan cukup banyak orang yang sebenarnya memiliki ide serupa.  

“Pertama, ada calon ketua BEM UI 2018 dan wakilnya, El Luthfie (FEB 2014) dan Shendy (FISIP 2014), mereka nge-chat gue. Mereka bilang kalau Humans of UI udah masuk ke calon prokernya. Mereka minta kalau mereka kepilih, ‘boleh ga Humans of UI kita ambil?’ Tapi, ternyata mereka gak kepilih,” jelas Ricky.  

“Kedua, gue sempat diwawancara sama anak-anak FIB, salah satunya Camar (FIB 2016). Disitu dia bilang mau bikin hal yang serupa, tapi udah keduluan Humans of UI,” tambahnya 

Di titik tersebut, ia menjadi sadar bahwa ternyata ide untuk mewujudkan model Humans of UI bukan milik satu orang saja. Menurutnya,

ide pada akhirnya hanya akan menjadi sebuah ide aja kalau gak dieksekusi.” 

Pada September 2018, Humans of UI resmi melakukan rebranding dengan nama Manusiaui. Akun yang kini telah mencapai 13 ribu pengikut ini berkembang lewat inisiasi Ricky bersama 4 orang temannya yang kini telah menjadi sebuah tim beranggotakan 12 orang dari berbagai fakultas di UI.

 

 

#2 A SAFE PLACE 

Bagi Ricky, Manusiaui merupakan safe place untuk orang-orang, dimana dengan membagikan cerita personal mereka, ia berharap mereka tidak lagi merasa sendirian.

“Komentar-komentar di manusiaui itu sangat suportif dan apresiatif, itu tanda kalau mereka yang bercerita itu benar-benar didengar, kalau mereka itu gak sendirian. 

Lalu, apa yang ditawarkan sehingga orang-orang mau bercerita? 

“Kita membangun trust mereka dengan memberikan informed consent kepada narasumber sebelum diwawancarai serta menghargai anonimitas mereka yang memilih untuk menjadi anonim,” tambah Ricky.

Cerita yang dimuat mulanya berawal dari rekomendasi teman-teman sekitar, namun menurut Ricky, orang-orang yang terjaring belum cukup berwarna dan belum merepresentasikan seluruh fakultas di UI. Karena itu, Manusiaui kini membuka submission form di bio profil @Manusiaui bagi teman-teman UI yang ingin membagikan ceritanya.  

Lebih lanjut, Ricky menyebut bahwa tim Manusiaui tidak memberikan batasan untuk cerita yang masuk. Namun, dalam memilih siapa yang akan diwawancarai, akan ada beberapa proses kurasi yang dilakukan oleh timnya. Kurasi ini dilakukan dengan melihat apakah topik yang ingin diceritakan sudah pernah diceritakan sebelumnya (bersifat redundant), representasi fakultas, perbandingan laki-laki dan perempuan, keberagaman cerita, apakah cerita tersebut genuine ketika diceritakan, dan masih banyak hal lainnya sebagai pertimbangan.

Selain itu, dalam pemilihan cerita, Manusiaui mengutamakan cerita mengenai isu-isu yang sensitif ataupun isu yang sedang ramai dibicarakan masyarakat.  

“Kita merasa senang bila ada orang-orang yang menjadikan Manusiaui sebagai ruang aman mereka bercerita. Balik lagi ke nilai awal, kita ingin menjadi tempat bagi orang yang gak punya tempat bercerita, untuk cerita.”

 

Berbicara tentang bercerita, menurut Ricky, banyak orang beranggapan bahwa cerita yang dimuat di laman Manusiaui hanya untuk orang-orang keren saja.  

“Iya, jadi banyak yang mau submit cerita mikir kalo ‘gue gapunya cerita yang keren.’ Padahal pasti setiap orang punya cerita kan?

 Menurut gue, manusiaui itu bukan untuk orang-orang keren, tapi mereka jadi keren karena masuk Manusiaui haha,” canda Ricky. 

#3 MEMANDANG MANUSIA :

NOT WHAT THEY ARE BUT WHO THEY ARE

Mempunyai prestasi memang merupakan suatu pencapaian yang patut dibanggakan. Namun, apakah itu cukup untuk menggambarkan siapa kita? Apakah orang lain mendefinisikan kita sebagai suatu pencapaian, sebagai suatu title, bukan sebagai manusia seutuhnya?

“Kita gamau nge-frame narasumber Manusiaui dari segi prestasinya, tapi lebih ke siapa orang itu sebenarnya.” 

“Jadi waktu itu kan lagi masa-masanya pemilihan Mapres (Mahasiswa Berprestasi). Gue tertarik untuk ngobrol sama Jana (FEB 2016; Juara Utama Pilmapres Nasional 2019), karena lihat dia di Instagramnya. Tapi, dari awal gue bilang ke tim, kalo gue wawancara dia, gue udah nge-state kalo gue gak mau angkat prestasinya Jana. 


Karena gue tau prestasinya dia banyak banget, dan lebih ingin untuk denger banyak soal keseharian dia. Gue ingin mem-portrait Jana sebagai Jana, sebagai manusia,” tegas Ricky.

#4 MAKNA MANUSIAUI

Tujuan awal Manusiaui adalah to connect and to inspire. To connect yaitu menghubungkan orang-orang yang memiliki interest yang sama, sedangkan to inspire yaitu menginspirasi orang-orang lewat cerita yang dibagikan. 

Dengan adanya Manusiaui, Ricky berharap teman-teman UI mendapatkan inspirasi dari lingkungan terdekat di sekitarnya. “Gak usah jauh-jauh keluar UI, inspirasi itu bisa didapet bahkan dari cerita temen-temen di sekitar lo.”

Ricky bercerita bahwa tanpa disadari, membangun Manusiaui telah menjadi suatu boomerang bagi dirinya. Ia kini banyak dikenal orang dengan titel founder Manusiaui, namun sebenarnya ia lebih ingin dikenal sebagai Ricky, seorang manusia biasa yang kebetulan mendirikan Manusiaui. Ia juga menyebut bahwa bukan dirinya seorang yang membuat Manusiaui besar seperti sekarang, melainkan cerita-cerita di dalamnya yang bisa menyentuh dan menginspirasi banyak orang. 

Di sisi lain, Ricky juga bercerita bahwa tujuan awalnya untuk dapat menghubungkan orang-orang kini berbalik kembali padanya bak boomerang.  Menghubungkan manusia-manusia di UI memang menjadi tujuannya saat mendirikan platform ini, “tapi secara ga langsung ternyata guelah yang terhubung dan bisa kenal dengan banyak orang dari Manusiaui,” sebut Ricky.

 

“Banyak hal yang disadarinya sama orang lain, bukan gue. Gue bahkan gak sadar kalo Manusiaui itu bisa juga dibaca jadi manusiawi haha. Semasa kuliah juga, gue pengen jadi jurnalis, terus temen-temen gue bilang, ‘Rik, lu sadar gak sih, dari Manusiaui ini lu kan sebenernya udah ngelakuin kerja jurnalistik dan bahkan punya media sendiri.’ Banyak hal terjadi dengan sendirinya tanpa gue sadari.”

 

Pada dasarnya, Ricky mengaku tipe pribadi yang senang bertemu dengan banyak orang. Ditambah dengan latar belakangnya di jurusan Ilmu Komunikasi, ia terbiasa dengan tugas-tugas yang mengharuskannya untuk mewawancarai orang. Karena itu, ia menganggap Manusiaui merupakan suatu bentuk kerja sosial bagi dirinya.


“Sedari awal gue gak nargetin profit dan yang gue lakuin ini ternyata berdampak buat diri gue sendiri. Ketika ketemu orang dan menyerap apa yang diceritakan, secara gak langsung gue bisa nge-shape dan improve diri gue sendiri. Dari situ, gue jadi menikmati hidup gue yang sekarang, gaada anxiety and fear of the future, bener-bener live in the present, punya realita sendiri. Ya intinya membentuk kepuasan batin tersendiri,” kata Ricky.

 

#5 GOODWILL WILL DO US GOOD 

“ Banyak orang ingin melakukan sesuatu yang bersifat sosial tapi takut gimana bayarannya nanti. Bahkan gue awalnya ga kepikiran buat ngelakuin sesuatu hal terus dibayar. Ketika ngelakuin sesuatu dari hati dan memang sesuatu yang gue suka, banyak hal yang datang dengan sendirinya. Misalnya, tiba-tiba gue diundang jadi moderator, lalu ternyata dapet bayaran; terus kemarin juga sempet jadi speaker pre-event TEDxUI sebagai founder Manusiaui.  

Banyak kesempatan yang dateng simply karena gue ngelakuin hal yang gue senengin.” 

Ketika punya mimpi yang baik, gue percaya semesta akan membantu mewujudkannya.

“Waktu awal bikin Manusiaui, gue ga kepikiran benefit apa yang bakal gue dapet. Gue cuma mau ngasih tempat buat orang bercerita.  

Banyak orang yang overthink ketika akan memulai sesuatu, 

you don’t have to be perfect to start something. 

Gapapa ngelakuin sesuatu dan hasilnya ga sebaik yang lo kira. Tapi kan lo bisa terus improve dalam perjalanannya. 

Kalo nunggu sempurna kapan jadinya?

Ketika punya mimpi yg baik, gue percaya semesta akan membantu untuk mewujudkannya.”

 

 

 

 

 

 

Content Writer : Vania Sandra & Robby Abdillah

Editor : Rafaella Shiene 

Related Articles

Related

Girl Up UI

Girl Up UI

 UIKISTORIES GIRL UP UI: SISTER(BROTHER)HOOD FOR CHANGE   #1 I’m not alone in this Kekerasan seksual hingga saat ini masih merupakan hal yang tabu untuk dibicarakan. Stigma masyarakat yang muncul ketika mendengar kata seksual menyebabkan kata kekerasan seringkali...

read more
Mindsters! Psiko UI

Mindsters! Psiko UI

UIKIPEDIA STORIES MINDSTERS! : PEMBANGKIT MATI SURI MINAT RISET MAHASISWA #1 Mindsters!’ Take on Research Mindsters! adalah sebuah kelompok peminatan mahasiswa penggiat riset yang berfokus pada pengembangan dan penelitian ilmu psikologi. Pada mulanya, Mindsters!...

read more
UI Toastmasters Club

UI Toastmasters Club

 UIKIPEDIA STORIES PUBLIC SPEAKING : SENI DAN PENERIMAAN  #1 The Backstory “Jadi, Toastmasters sendiri itu organisasi internasional yang berfokus pada pengembangan public speaking. Awal kehadirannya di UI sebenernya untuk staff UI dan dibiayai oleh pihak kampus....

read more
CHECK US OUT
  • For inquiries
  • manusiaui@gmail.com

Follow

Manusiaui

Manusiaui merupakan sebuah media online yang bertujuan untuk menghubungkan dan menginspirasi manusia-manusia yang ada di Universitas Indonesia. Kami membagikan cerita setiap manusia, karena kami percaya setiap orang memiliki cerita.

Follow Us