UIKIPEDIA STORIES

PUBLIC SPEAKING :

SENI DAN

PENERIMAAN 

#1 The Backstory

“Jadi, Toastmasters sendiri itu organisasi internasional yang berfokus pada pengembangan public speaking. Awal kehadirannya di UI sebenernya untuk staff UI dan dibiayai oleh pihak kampus. Toastmasters di sini jadi solusi karena banyak staff yang cenderung bisa nulis dan baca dalam Bahasa Inggris, tapi untuk ngomong susah.”

Saat ini UI Toastmasters Club sudah dibuka untuk umum dan berada di bawah Direktorat Pembinaan Sumber Daya Manusia UI. 

Untuk menjadi member, kamu cukup membayar biaya sekitar 7,5 USD per bulan untuk 5x meeting dalam sebulan dan mendapat benefit kurikulum serta sertifikat berstandar internasional.

Bagi kamu yang berminat mencoba bergabung, bisa langsung datang ke regular meeting Toastmasters tanpa dipungut biaya pada hari Rabu atau Kamis sore dan Sabtu pagi di VIP Lounge Perpusat Lt.1.

 

 

#2 Becoming the Master of Toasts

“Di Toastmasters ini ga ada pengajarnya. Jadi konsepnya itu dari dan oleh member, saling mengajarkan antara yang lebih berpengalaman dan yang masih lebih baru.” 

“Intinya dari Toastmasters itu adanya regular meeting dimana member bisa deliver speech di sana. Ada 3 sesi yaitu prepared speech yang bahannya udah lo siapin terkait project di kurikulum, table topic yang sifatnya impromptu, dan yang paling penting ada evaluation session yang mengevaluasi speech yang lo bawain tadi.”  

 “Di Toastmasters ini yang jadi output sebenarnya adalah member growth yang dicari. Kita sendiri yang menentukan seberapa jauh kita mau berkembang, kurikulum yang ada hanya sebagai pengarah. Setiap member dapet kesempatan untuk deliver speech 2x dalam sebulan dan tidak terbatas di satu club saja”

 

 

#3 Breaking Boundaries 

“Ada saying yang bilang kalo orang itu bisa lebih takut sama public speaking daripada takut mati. Ketakutan ini sebenernya wajar karena lo ngadepin ketakutan yang ga biasa lo alami dan lo ga familiar sama kondisi itu. Sampai sekarang juga kalo ditanya ya gue masih nervous sebenernya untuk deliver speech, tapi udah jadi lebih terbiasa aja.” 

“Kalo masalah personality, gue juga sebenernya nature-nya introvert. Tapi gue percaya kalo karakter itu susah diubah tapi kebiasaan bisa diubah. Pikiran kayak ‘gue introvert gue gabisa public speaking’ itu salah sih, jangan membatasi diri juga. Di Toastmasters sendiri juga banyak yang introvert tapi yang membedakan ya mereka berani maju.

Comfort zone is sometimes a trap.

Kalo gue liat banyak orang yang punya potensi, tapi yang membedakan dari orang yang sukses dalam public speaking itu cuma mereka berani keluar dari zona nyaman dan berani terus nge-push diri sendiri. 

Jujur aja kalo gue mencari kenyamanan gue ga akan ikut yang kaya gini (Toastmasters). Tapi karena gue sadar, nanti di dunia kerja dan di kehidupan sehari-hari lo bakal butuh kemampuan buat ngomong dan menyampaikan apa yang lo inginkan supaya bisa bersaing dan survive.”

 

 

#4 Acceptance and Sense of Belonging 

“Pertama kali disuruh maju, dikasih table topic dan harus speech 2 menit tanpa persiapan, gapernah kaya gitu sebelumnya dan deg-degan abis. Menurut gue speechnya ancur banget, tapi gue ditepuktanganin sama satu ruangan.

Gue ngerasa penerimaannya sangat bagus dan gue merasa dihargai disana.”

“Jadi gue tahun 2016 kenal Toastmasters, tertarik ikutan karena beda atmosfirnya & metodenya dibanding platform public speaking lainnya. Terkadang yang lebih ditekankan itu kan jiwa kompetisi tinggi dalam public speaking dan yang terlihat menonjol selalu yang udah jago sehingga yang mau belajar jadi minder duluan. Tapi Toastmasters beda yang gue rasain, se-terbuka dan se-membangun itu karena culture-nya yang menurut gue beda.”

“Kalo gue emang merasa cocoknya aja di Toastmasters karena gue bisa belajar di lingkungan yang ‘tidak mengancam’, people can listen to me and i can listen to people. Wadah yang encourage orang untuk ‘yaudah gue pengen ngomong Bahasa inggris’.”

“Value lainnya juga disini gue bisa ketemu orang dari berbagai background, ga cuma mahasiswa doang isinya, banyak juga yang udah kerja. Jadi, keuntungannya bisa punya banyak relasi dan bergaul baik sama mahasiswa dan yang udah kerja. Kita juga bisa main ke klub Toastmasters lain juga selain di UI. Dari ngobrol-ngobrol itu bisa dapet banyak insight karena misalnya kalo yang udah kerja kan bisa beda pandangannya dan pengalaman juga lebih banyak, jadi berasa punya banyak kakak.”

 

#5 The Art of Respecting

“Public speaking itu sesuatu yang berbeda dari ngomong sama orang aja. Lo dikasi waktu 5-7 menit ngomong di depan, pake bahasa inggris lagi kan. Cuma untungnya di Toastmasters orang mau dengerin kita entah sebosen apapun.”

Selain belajar seni berbicara di depan umum, Toastmasters juga merupakan tempat belajar yang baik untuk belajar mendengarkan dan menghargai orang lain. Hal ini sejalan dengan culture yang dimiliki Toastmasters, yaitu memanggil nama dengan awalan Toastmaster untuk menghilangkan kesenjangan antaranggota, shaking hands atau berjabat tangan, dan clapping hands untuk menunjukkan apresiasi bagi yang sudah berbicara di depan.

 

#6 Crucial Skill 

Public speaking itu pentingnya banget sih ya menurut gue karena gue ngeliat banyak orang yang pinter banget, tapi untuk ngomong, untuk mengartikulasikan apa yang ada di pikirannya itu susah.” 

“Kalo contoh sederhananya kan di kuliah itu gimana kita menarik orang supaya dengerin presentasi kita, kemampuan membujuk orang untuk sepaham sama lo. Nyamain apa yg lo pikirin supaya nyampe diterima semua org itu susah, lho dan disitu seninya public speaking.”

 

#7 Faking Confidence 

“There are two types of speakers: Those who get nervous and those who are liars.”

– Mark Twain

“Kalo lo ngomong ga nervous pas public speaking tandanya lo termasuk liars sih. Nervous itu wajar dalam public speaking, yang penting banyak latihan dan banyak dijeblosin pada situasi dimana lo harus ngomong di depan banyak orang, dengan kaya gitu baru confidence lo bisa bertumbuh sih.”

“Supaya bisa menumbuhkan confidence memang caranya kita harus memaksa diri untuk maju, kita juga harus ada di lingkungan yang mendukung karena SALAH SATU yang paling besar mempengaruhi itu lingkungan dalam membentuk mental.”

 

 

“Supaya bisa menumbuhkan confidence memang caranya kita harus memaksa diri untuk maju, kita juga harus ada di lingkungan yang mendukung karena yang paling besar mempengaruhi itu lingkungan dalam membentuk mental.”

 

Featured in this story :

Venna Patricia

Venna Patricia

President of UI Toastmasters Club Jan-June 2019